Dari Praha, Ceko, seorang sahabat pernah mengirim e-mail. Saat itu dia bertanya tentang alasan saya dan kawan-kawan mendorong Sultan Hamengku Buwono X untuk maju mencalonkan diri menjadi Presiden 2009-2014.
Dengan ringkas saya jawab, ”Banyak alasan, tetapi yang terpenting adalah beliau sederhana dan tulus. Indonesia membutuhkan itu.”
Sejatinya, kesederhanaan dan ketulusan itulah yang hancur di republik ini. Hampir semua figur pemimpin telah kehilangan kesederhanaan. Jabatan dan harta yang mereka miliki bukan digunakan untuk menempuh jalan menanjak dan sulit, yaitu ketulusan terhadap rakyat, tetapi untuk kemewahan pribadi. Akibatnya, perjuangan untuk memenangi suatu posisi politik, misalnya, tinggal mempunyai satu bahasa seragam, yakni uang.
Demikian juga nuansa yang tampak pada Musyawarah Nasional (Munas) Golkar, 5-7 Oktober. Aroma dan embusan angin kencang bukan lagi atas dasar pertimbangan kesederhanaan dan ketulusan hati para kandidat ketua umum, tetapi aspek lain, terutama kemampuan finansial. Di sini, penulis teringat ucapan Sultan saat kami menunggu berbuka puasa, 15 September lalu. ”Roh Golkar telah pindah ke Partai Demokrat,” katanya pendek.
Roh Golkar
Penulis merenung tentang roh Golkar itu, juga mencoba menimbang-nimbang siapa di antara para kandidat yang memperebutkan kursi ketua umum pada munas nanti, yang bisa merevitalisasi elan Partai Golkar. Apakah Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Tommy Soeharto, atau Yuddy Chrisnandi?
Sejujurnya, saya tidak tahu persis siapa di antara mereka yang telah diberi ”dua mata, lidah, dan dua bibir” sehingga mempunyai ketulusan hati terhadap partai dan rakyat.
Golkar, meski lahir sebagai partai hegemonik pada era Orde Baru, sulit dimungkiri bahwa para tokoh yang berhimpun di dalamnya saat itu secara umum adalah orang-orang pilihan. Mereka mempunyai kemampuan manajerial dan komunikasi politik yang bagus dan santun. Ada kemampuan manajemen impresif yang luar biasa.
Sosok seperti itu kini tampil hampir secara utuh di Partai Demokrat. Sebagai ketua dewan pembina, sulit untuk tidak mengatakan, gaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempunyai kualitas manajemen impresif yang kuat. Figur lain di lingkaran inti partai, seperti Anas Urbaningrum, Syarif Hasan, bahkan Ahmad Mubarok yang sering kontroversial, adalah bingkai dari kesantunan itu.
Meski bukan sebagai fotokopi, gaya Soeharto, Soedarmono, Wahono, Sarwono Kusumaatmadja, dan Akbar Tandjung, misalnya, telah pindah dan menjadi ciri dan penampilan Partai Demokrat saat ini. Sebaliknya, dalam tubuh kepemimpinan Partai Golkar kering dengan karakter seperti itu. Dari titik ini bisa dikatakan, roh Golkar memang sudah pindah.
Lebih dalam lagi, jika dilihat dari roh kekaryaan, pembangunan dan persatuan, irama kehidupan Golkar semarak pada masa lalu. Kini sulit dimungkiri, jiwa Golkar cenderung terbelah, penuh konflik, dan rapuh. Semangat kekaryaannya tumpul. Elan pembangunannya berskala sempit, terutama untuk kelompok sendiri. Pendeknya, Golkar tidak mengerti lagi bahasa rakyat, keluhan rakyat, kepentingan rakyat. Roh ini telah pindah ke Partai Demokrat. Setidaknya begitulah persepsi masyarakat, terbukti dengan merosotnya perolehan suara Golkar pada pemilu lalu.
Padahal, dulu, zaman kepemimpinan Soedarmono, misalnya, tiap kader Golkar benar-benar turun ke lapangan. Masuk ke pelosok desa untuk memetakan dan mengenali konstituennya. Meski sebagai partai hegemonik, mereka sensitif terhadap segala keluh kesah rakyat. Ini adalah paradoks. Golkar Baru yang mengibarkan bendera sebagai partai yang berorientasi pasar, sensitif terhadap aneka masalah rakyat, ternyata dukungannya kian melemah. Dengan kata lain, kibaran Golkar sebagai partai berorientasi pasar untuk sementara ini boleh disebut gagal.
Kesalahan memilih
Golkar yang kehilangan roh, yang saat ini gagal menjadi partai berorientasi pasar, hanya bisa ditolong oleh ketua umum yang berkarakter kuat dan tulus dalam memimpin. Namun, ini terlalu ideal untuk kondisi sekarang. Setidaknya figur itu berjiwa nasionalis dan tidak menjadikan Golkar sebagai payung pelindung dan ranah subur bagi perluasan jaringan bisnis.
Karena itu, silakan para pengurus partai menengok nurani masing-masing pada munas kali ini, lalu memutuskan apakah Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Tommy Soeharto, atau Yuddy Chrisnandi yang berani menempuh jalan mendaki dan sulit demi kepentingan partai dan rakyat.
Uang jelas bukan segalanya untuk bisa bangkit. Sejarah telah mencatat, Golkar tetap berkibar pada awal reformasi meski dihujat dan sempit duit.
Catatan penting, kesalahan memilih figur ketua umum dalam munas kali ini akan membuat fenomena kehilangan roh menjadi realitas permanen bagi Golkar pada masa depan. Jika hal itu terjadi, yang penyebab utamanya justru perilaku kader yang hanya mengejar kepentingan sesaat, maka sebagai orang di luar Golkar, saya hanya bisa bergumam, ”Gusti ora sare” (Tuhan tidak tidur). Selamat tinggal Golkar.