
SULAWESI TENGAH
Wilayah propinsi Sulawesi Tengah, dulunya merupakan Kerajaan yang terdiri atas 15 kerajaan kecil, kemudian dikenal sebagai Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat. Tahun 1964 dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 1964 terbentuklah Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang meliputi empat kabupaten yaitu Kabupaten Donggal, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Tolitoli.
Selanjutnya Pemerintah Pusat menetapkan Propinsi Sulawesi Tengah sebagai Propinsi yang otonom berdiri sendiri yang ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Pembentukan Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan selanjutnya tanggal pembentukan tersebut diperingati sebagai Hari Lahirnya Propinsi Sulawesi Tengah.
Penduduk asli Sulawesi Tengah terdiri dari 15 kelompok etnis (suku), yaitu Kaila dan Kulawi di kabupaten Donggala dan kota Palu, Lore dan Pamona berdiam di kabupaten Poso, Mori dan Bungku berdiam di Morowali, Saluan, Balantak Mamasa dan Taa berdiam di kabupaten Banggai, Bare’e berdiam di kabupaten Touna, Banggai di Kabupaten Banggai Kepulauan, Buol di kabupaten Buol, Tolitoli di kebupaten Tilitoli dan Tomini di kabupaten Parigi Moutong.
Masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan diketuai oleh ketua adat disamping pimpinan pemerintahan seperti Kepala Desa. Ketua adat menetapkan hukum adat dan denda berupa kerbau bagi yang melanggar. Umumnya masyarakat yang jujur dan ramah sering mengadakan upacara untuk menyambut para tamu seperti persembahan ayam putih, beras, telur dan tuak yang difermentasikan dan disimpan dalam bambu.
Selain penduduk asli, Sulawesi Tengah dihuni pula oleh transmigran. Jumlah penduduk di daerah ini sekitar 2.349.398 jiwa yang mayoritas beragama Islam, lainnya Kristen, Hindu dan Budha. Tingkat toleransi beragama sangat tinggi dan semangat gotong-royong yang kuat merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.
Potensi sumber daya alam (SDA) yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah cukup melimpah. Mulai dari hasil pertanian, kehutanan, kelautan hingga potensi sektor pertambangan tersedia. Tapi potensi itu belum sebanding dengan kemampuan Pemda dalam menyediakan fasilitas pengelolaan ataupun fasilitas pendukung. Sehingga tidak heran pengelolaan potensi SDA yang seharusnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi daerah tidak seperti yang diharapkan.
Pertanian merupakan sumber utama mata pencaharian penduduk dengan padi sebagai tanaman utama. Total produksi padi di Sulawesi Tengah mencapai 725.945 ton dan banyak terdapat di Kabupaten Donggala, Parigi Moutong dan Banggai. Selain itu, Sulawesi Tengah juga penghasil tanaman pangan lainnya seperti; jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau dan kedelai. Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan dan Donggala merupakan kabupaten yang sangat cocok sebagai pusat pengembangan palawija di Sulawesi Tengah.
Sementara itu, produksi jagung tahun 2005 mengalami peningkatan sebesar 7,79% dari 53.452 ton tahun 2004 menjadi 57.617 ton tahun 2005. Untuk ubi kayu produksi tahun 2005 tercatat 48.255 ton, naik 6,98 persen dibanding tahun 2004 sebesar 45.106 ton. Kenaikan produksi tanaman palawija ini terutama disebabkan adanya peningkatan luas panen.
Untuk jenis sayuran yang dihasilkan oleh daerah Sulawesi Tengah, antara lain meliputi; bawang daun, kentang, kubis, sawi, tomat, buncis, wartel, bawang merah, baneang merah, kacang-kacangan, lombok, terung, bayam, labu siam, kangkung, dan kembang kol. Jenis sayuran tersebut banyak di hasilkan dari daerah Donggala, Morowali dan Tolitoli. Ketiga kebupaten itu cocok sebagai pusat pengembangan sayuran di Sulawesi Tengah.
Untuk perkebunan, Sulawesi Tengah juga menjadi penghasil kelapa, kopi, cengkeh, kapuk, lada, jambu mete, coklat, karet, kelapa sawit, sagu dan kemiri. kopi, kapuk, lada, coklat dan kelapa sawit bagus dikembangkan di Donggala. Sagu, kemiri dan jambu mete baik dikembangkan di Kabupaten Banggai.
Kakao, kelapa dan cengkeh juga merupakan komoditas unggulan sub-sektor perkebunan. Luas areal tanaman kakao dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan. Berdasarkan data BPS (2006), luas areal kakao tahun 2005 naik 12,11 persen yaitu dari 166.501 ha tahun 2004 menjadi 186.670 ha tahun 2005.
Areal perkebunan kakao banyak terdapat di Kabupaten Donggala, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Poso, Kabupaten Morowali, Kabupaten Tojo Una-Una, Kabupaten Buol, Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Banggai, dan Kabupaten Banggai Kepulauan.
Data Ditjen Bea dan Cukai menunjukkan bahwa nilai ekspor antar negara Sulawesi Tengah tahun 2006 tumbuh 51,44 persen dibandingkan tahun 2005 dengan nilai mencapai US $ 202,16 juta, dan didominasi kelompok kopi, teh, coklat dan rempah-rempah dengan pangsa sebesar 92,04 persen atau US $ 186,07 juta.
Sementara itu, nilai ekonomi tanaman kelapa di Sulawesi Tengah tercatat cukup besar dengan luas lahan tahun 2005 mencapai 170.871 ha dan produksi 180.388 ton. Selain diolah menjadi kopra bagian tempurung kelapa dapat diolah menjadi arang dan sabut serta batang kelapa menjadi bahan baku industri yang bernilai tinggi. Potensi pengembangan tanaman kelapa diperkirakan 40.000 ha. Untuk meningkatkan produksi kelapa, diperlukan peremajaan tanaman dengan klon unggul, disamping ekstensifikasi.
Selain kakao dan kelapa, komoditi unggulan lain adalah cengkeh. Penghasil utama cengkeh di Kabupaten Toli-toli. Selain itu, tanaman cengkeh terdapat di Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Donggala dan kabupaten lainnya. Luas lahan perkebunan cengkeh 47.374 ha dengan produksi 12.417 ton pada tahun 2005.
Sumber daya alam lainnya yang dimiliki daerah Sulteng adalah sektor kehutanan. Luas hutan 4.394.932 ha potensi hutan yang dimiliki cukup besar. Jenis-jenis hutan antara lain hutan lindung 1.489.923 ha, hutan produksi biasa 500.587 ha, hutan produksi terbatas 1.476.318 ha, hutan konversi seluas 251.856 ha, hutan suaka alam dan hutan wisata seluas 676.923 ha. Hasil produksi dapat diambil antara lain kayu bulat sebanyak 114.583,25 m³, kayu gergajian 90.308.477,5 m³, kayu eboni 708,32 m³, rotan 13.908.462 m³ dan damar 1.468.826 m³.
Selain itu, terdapat pula potensi sumber air laut, diperkirakan luas perairan sekitar tiga kali luas daratan yakni 193.923,75 km² membentang sepanjang wilayah. sebelah timur sejauh Teluk Tolo dan Teluk Tomini dan sebelah barat adalah Selat Makassar dan sebagian laut Sulawesi. Potensi perairan laut mengandung sumber penghasilan yang sangar besar berupa bahan makanan ikan dan tumbuhan laut.
Potensi perairan laut diperkirakan sebesar 1.593.796 ton pertahun. Potensi kelautan dan perikanan dimasukkan dalam penetapan zona/kawasan pengelolaan sumber daya kelautan di Sulawesi Tengah, yakni: (1) Zona pengembangan I, meliputi perairan laut Sulawesi dan Selat Makasar yaitu Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Toli-toli dan Kabupaten Buoi; (2) Zona Pengembangan II, meliput perairan Teluk Tomini yaitu Kab Lipaten Parigi Moutong, Kabupaten Poso, Kabupaten Bariggai; (3) Zona Pengembangan III, meliputi Perairan Teluk folo, yattu Kabupaten Bariggat, Kabupaten Banggai Kepulauan, dan Kabupaten Worowali.
Potensi penangkapan ikan di laut lepas dan budidaya pantai dapat menghasilkan 92.088 ton ikan dengan jumlah kapal penangkap ikan sebanyak 31.675 unit. Sedangkan di perairan umum mencapai 299 ton ikan. Perikanan budi daya fuis areal mencapai 10.403 ha dapat memproduksi 9.286,6 ton. Pada budidaya tersebut mencapai 1.394,80 ha, dapat menghasilkan sebanyak 1.579,70 ton ikan. Pada budi daya jumlah keramba mencapai 60 unit produksi 23,2 ton, sedangkan budidaya laut dengan luas areal 828,3 ha menghasilkan produksi sebanyak 20.664,4 ton. Saat ini, Sulawesi Tengah pengekspor hasil perikanan sebanyak 1.641 ton ke berbagai negara.
Sulawesi Tengah memiliki perairan laut 193.923,75 km2 tersebar di Teluk Tolo, Teluk Tomini, Selat Makasar dan Laut Sulawesi. Potensi ikan di perairan itu sebanyak 330.000 ton per-tahun. Sedangkan ikan yang bisa dikelola secara lestari sekitar 214.000 ton per-tahun. Di Teluk Tolo terdapat 68.000 ton per-tahun, Teluk Tomini 78.000 ton per-tahun, Selat Makasar dan Laut Sulawesi 68.000 ton per-tahun. Dari potensi ikan lestari tersebut jumlah ikan yang dapat ditangkap sebesar 217.280 ton per-tahun. Sementara, tingkat pemanfaatan sampai dengan saat ini baru mencapai 46,20 persen.
Jenis ikan yang terdapat di perairan Sulawesi Tengah antara lain ikan tuna, ikan cakalang, ikan kerapu, ikan taripang, ikan lajang dan udang. Potensi ikan pelagis besar untuk komoditi ekspor terutama ikan tuna sekitar 10.000 ton per-tahun dan ikan cakalang 14.000 ton per-tahun. Hasil laut lainnya yaitu biji mutiara, teripang, dan rumput laut. Selain perikanan tangkap, daerah ini juga punya potensial mengembangkan perikanan budidaya udang, bandeng dan ikan kerapu. Kedepan, hasil perikakan laut dan tambak dapat dikembangkan di Kabupaten Tolitoli, sedangkan pengembangan perikanan umum dipusatkan di Poso.
Selain potensi di atas, daerah Sulteng punya sumberdaya bahan galian dan mineral berupa; mineral logam industri dan bahan bangunan serta bahan bakar batubara dan minyak bumi. Bahan galian golongan A (strategis) antara lain minyak bumi dan gas bumi, batubara dan nikel. Bahan galian vital (golongan B) antara lain emas, molibdenum, chronit, tembaga dan belerang. Bahan galian golongan C (bukan strategis dan vital) meliputi sirtukil, granit, marmer, pasir kuarsa, pasir besi, lempung dan sebagainya.
Untuk mambawa Sulteng menuju daerah agrobisnis yang memberi nilai tambah dalam mengelola bahan yang banyak manfaatnya, benturannya pada kendala tersedianya energi listrik. Di Palu dan di Sulteng secara umum kendala listrik belum teratasi, sehingga timbul rasa pesimistis pemenfaatan SDA akan mulus ke depan. Untuk itu, Pemda perlu memisahkan sektor unggulan dan sektor andalan yang harus dikembangkan. Tidak semua sektor harus dikembangkan bisa empat atau lima komoditi yang paling potensial. Sehingga imbasnya, pada sektor unggulan itu benar-benar menjadi ikon bagi daerah di Sulteng dan memberi nilai tambah bagi kesejahteraan rakyat.
Selanjutnya Pemerintah Pusat menetapkan Propinsi Sulawesi Tengah sebagai Propinsi yang otonom berdiri sendiri yang ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Pembentukan Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan selanjutnya tanggal pembentukan tersebut diperingati sebagai Hari Lahirnya Propinsi Sulawesi Tengah.
Penduduk asli Sulawesi Tengah terdiri dari 15 kelompok etnis (suku), yaitu Kaila dan Kulawi di kabupaten Donggala dan kota Palu, Lore dan Pamona berdiam di kabupaten Poso, Mori dan Bungku berdiam di Morowali, Saluan, Balantak Mamasa dan Taa berdiam di kabupaten Banggai, Bare’e berdiam di kabupaten Touna, Banggai di Kabupaten Banggai Kepulauan, Buol di kabupaten Buol, Tolitoli di kebupaten Tilitoli dan Tomini di kabupaten Parigi Moutong.
Masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan diketuai oleh ketua adat disamping pimpinan pemerintahan seperti Kepala Desa. Ketua adat menetapkan hukum adat dan denda berupa kerbau bagi yang melanggar. Umumnya masyarakat yang jujur dan ramah sering mengadakan upacara untuk menyambut para tamu seperti persembahan ayam putih, beras, telur dan tuak yang difermentasikan dan disimpan dalam bambu.
Selain penduduk asli, Sulawesi Tengah dihuni pula oleh transmigran. Jumlah penduduk di daerah ini sekitar 2.349.398 jiwa yang mayoritas beragama Islam, lainnya Kristen, Hindu dan Budha. Tingkat toleransi beragama sangat tinggi dan semangat gotong-royong yang kuat merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.
Potensi sumber daya alam (SDA) yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah cukup melimpah. Mulai dari hasil pertanian, kehutanan, kelautan hingga potensi sektor pertambangan tersedia. Tapi potensi itu belum sebanding dengan kemampuan Pemda dalam menyediakan fasilitas pengelolaan ataupun fasilitas pendukung. Sehingga tidak heran pengelolaan potensi SDA yang seharusnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi daerah tidak seperti yang diharapkan.
Pertanian merupakan sumber utama mata pencaharian penduduk dengan padi sebagai tanaman utama. Total produksi padi di Sulawesi Tengah mencapai 725.945 ton dan banyak terdapat di Kabupaten Donggala, Parigi Moutong dan Banggai. Selain itu, Sulawesi Tengah juga penghasil tanaman pangan lainnya seperti; jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau dan kedelai. Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan dan Donggala merupakan kabupaten yang sangat cocok sebagai pusat pengembangan palawija di Sulawesi Tengah.
Sementara itu, produksi jagung tahun 2005 mengalami peningkatan sebesar 7,79% dari 53.452 ton tahun 2004 menjadi 57.617 ton tahun 2005. Untuk ubi kayu produksi tahun 2005 tercatat 48.255 ton, naik 6,98 persen dibanding tahun 2004 sebesar 45.106 ton. Kenaikan produksi tanaman palawija ini terutama disebabkan adanya peningkatan luas panen.
Untuk jenis sayuran yang dihasilkan oleh daerah Sulawesi Tengah, antara lain meliputi; bawang daun, kentang, kubis, sawi, tomat, buncis, wartel, bawang merah, baneang merah, kacang-kacangan, lombok, terung, bayam, labu siam, kangkung, dan kembang kol. Jenis sayuran tersebut banyak di hasilkan dari daerah Donggala, Morowali dan Tolitoli. Ketiga kebupaten itu cocok sebagai pusat pengembangan sayuran di Sulawesi Tengah.
Untuk perkebunan, Sulawesi Tengah juga menjadi penghasil kelapa, kopi, cengkeh, kapuk, lada, jambu mete, coklat, karet, kelapa sawit, sagu dan kemiri. kopi, kapuk, lada, coklat dan kelapa sawit bagus dikembangkan di Donggala. Sagu, kemiri dan jambu mete baik dikembangkan di Kabupaten Banggai.
Kakao, kelapa dan cengkeh juga merupakan komoditas unggulan sub-sektor perkebunan. Luas areal tanaman kakao dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan. Berdasarkan data BPS (2006), luas areal kakao tahun 2005 naik 12,11 persen yaitu dari 166.501 ha tahun 2004 menjadi 186.670 ha tahun 2005.
Areal perkebunan kakao banyak terdapat di Kabupaten Donggala, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Poso, Kabupaten Morowali, Kabupaten Tojo Una-Una, Kabupaten Buol, Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Banggai, dan Kabupaten Banggai Kepulauan.
Data Ditjen Bea dan Cukai menunjukkan bahwa nilai ekspor antar negara Sulawesi Tengah tahun 2006 tumbuh 51,44 persen dibandingkan tahun 2005 dengan nilai mencapai US $ 202,16 juta, dan didominasi kelompok kopi, teh, coklat dan rempah-rempah dengan pangsa sebesar 92,04 persen atau US $ 186,07 juta.
Sementara itu, nilai ekonomi tanaman kelapa di Sulawesi Tengah tercatat cukup besar dengan luas lahan tahun 2005 mencapai 170.871 ha dan produksi 180.388 ton. Selain diolah menjadi kopra bagian tempurung kelapa dapat diolah menjadi arang dan sabut serta batang kelapa menjadi bahan baku industri yang bernilai tinggi. Potensi pengembangan tanaman kelapa diperkirakan 40.000 ha. Untuk meningkatkan produksi kelapa, diperlukan peremajaan tanaman dengan klon unggul, disamping ekstensifikasi.
Selain kakao dan kelapa, komoditi unggulan lain adalah cengkeh. Penghasil utama cengkeh di Kabupaten Toli-toli. Selain itu, tanaman cengkeh terdapat di Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Donggala dan kabupaten lainnya. Luas lahan perkebunan cengkeh 47.374 ha dengan produksi 12.417 ton pada tahun 2005.
Sumber daya alam lainnya yang dimiliki daerah Sulteng adalah sektor kehutanan. Luas hutan 4.394.932 ha potensi hutan yang dimiliki cukup besar. Jenis-jenis hutan antara lain hutan lindung 1.489.923 ha, hutan produksi biasa 500.587 ha, hutan produksi terbatas 1.476.318 ha, hutan konversi seluas 251.856 ha, hutan suaka alam dan hutan wisata seluas 676.923 ha. Hasil produksi dapat diambil antara lain kayu bulat sebanyak 114.583,25 m³, kayu gergajian 90.308.477,5 m³, kayu eboni 708,32 m³, rotan 13.908.462 m³ dan damar 1.468.826 m³.
Selain itu, terdapat pula potensi sumber air laut, diperkirakan luas perairan sekitar tiga kali luas daratan yakni 193.923,75 km² membentang sepanjang wilayah. sebelah timur sejauh Teluk Tolo dan Teluk Tomini dan sebelah barat adalah Selat Makassar dan sebagian laut Sulawesi. Potensi perairan laut mengandung sumber penghasilan yang sangar besar berupa bahan makanan ikan dan tumbuhan laut.
Potensi perairan laut diperkirakan sebesar 1.593.796 ton pertahun. Potensi kelautan dan perikanan dimasukkan dalam penetapan zona/kawasan pengelolaan sumber daya kelautan di Sulawesi Tengah, yakni: (1) Zona pengembangan I, meliputi perairan laut Sulawesi dan Selat Makasar yaitu Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Toli-toli dan Kabupaten Buoi; (2) Zona Pengembangan II, meliput perairan Teluk Tomini yaitu Kab Lipaten Parigi Moutong, Kabupaten Poso, Kabupaten Bariggai; (3) Zona Pengembangan III, meliputi Perairan Teluk folo, yattu Kabupaten Bariggat, Kabupaten Banggai Kepulauan, dan Kabupaten Worowali.
Potensi penangkapan ikan di laut lepas dan budidaya pantai dapat menghasilkan 92.088 ton ikan dengan jumlah kapal penangkap ikan sebanyak 31.675 unit. Sedangkan di perairan umum mencapai 299 ton ikan. Perikanan budi daya fuis areal mencapai 10.403 ha dapat memproduksi 9.286,6 ton. Pada budidaya tersebut mencapai 1.394,80 ha, dapat menghasilkan sebanyak 1.579,70 ton ikan. Pada budi daya jumlah keramba mencapai 60 unit produksi 23,2 ton, sedangkan budidaya laut dengan luas areal 828,3 ha menghasilkan produksi sebanyak 20.664,4 ton. Saat ini, Sulawesi Tengah pengekspor hasil perikanan sebanyak 1.641 ton ke berbagai negara.
Sulawesi Tengah memiliki perairan laut 193.923,75 km2 tersebar di Teluk Tolo, Teluk Tomini, Selat Makasar dan Laut Sulawesi. Potensi ikan di perairan itu sebanyak 330.000 ton per-tahun. Sedangkan ikan yang bisa dikelola secara lestari sekitar 214.000 ton per-tahun. Di Teluk Tolo terdapat 68.000 ton per-tahun, Teluk Tomini 78.000 ton per-tahun, Selat Makasar dan Laut Sulawesi 68.000 ton per-tahun. Dari potensi ikan lestari tersebut jumlah ikan yang dapat ditangkap sebesar 217.280 ton per-tahun. Sementara, tingkat pemanfaatan sampai dengan saat ini baru mencapai 46,20 persen.
Jenis ikan yang terdapat di perairan Sulawesi Tengah antara lain ikan tuna, ikan cakalang, ikan kerapu, ikan taripang, ikan lajang dan udang. Potensi ikan pelagis besar untuk komoditi ekspor terutama ikan tuna sekitar 10.000 ton per-tahun dan ikan cakalang 14.000 ton per-tahun. Hasil laut lainnya yaitu biji mutiara, teripang, dan rumput laut. Selain perikanan tangkap, daerah ini juga punya potensial mengembangkan perikanan budidaya udang, bandeng dan ikan kerapu. Kedepan, hasil perikakan laut dan tambak dapat dikembangkan di Kabupaten Tolitoli, sedangkan pengembangan perikanan umum dipusatkan di Poso.
Selain potensi di atas, daerah Sulteng punya sumberdaya bahan galian dan mineral berupa; mineral logam industri dan bahan bangunan serta bahan bakar batubara dan minyak bumi. Bahan galian golongan A (strategis) antara lain minyak bumi dan gas bumi, batubara dan nikel. Bahan galian vital (golongan B) antara lain emas, molibdenum, chronit, tembaga dan belerang. Bahan galian golongan C (bukan strategis dan vital) meliputi sirtukil, granit, marmer, pasir kuarsa, pasir besi, lempung dan sebagainya.
Untuk mambawa Sulteng menuju daerah agrobisnis yang memberi nilai tambah dalam mengelola bahan yang banyak manfaatnya, benturannya pada kendala tersedianya energi listrik. Di Palu dan di Sulteng secara umum kendala listrik belum teratasi, sehingga timbul rasa pesimistis pemenfaatan SDA akan mulus ke depan. Untuk itu, Pemda perlu memisahkan sektor unggulan dan sektor andalan yang harus dikembangkan. Tidak semua sektor harus dikembangkan bisa empat atau lima komoditi yang paling potensial. Sehingga imbasnya, pada sektor unggulan itu benar-benar menjadi ikon bagi daerah di Sulteng dan memberi nilai tambah bagi kesejahteraan rakyat.
* Peta diadaptasi dari aselinya yang diperoleh dari www.bakosurtanal.go.id
| Nama Daerah | : | Sulawesi Tengah |
| Ibu Kota | : | Palu |
| Status | : | Provinsi |
| Luas | : | 68 km2 |
| Jumlah Kabupaten | : | 9 Kabupaten |
| Jumlah Kota | : | 1 Kota |
| Jumlah Kecamatan | : | 115 Kecamatan |
| Penduduk Laki-Laki | : | 1.204.581 jiwa |
| Penduduk Perempuan | : | 1.144.817 jiwa |
| Jumlah Penduduk | : | 2.349.398 jiwa |
Chart.
|
Peta Ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah
|
Chart.
|
Potensi Ekonomi Andalan Provinsi Sulawesi Tengah
| Perikanan | Total | Kecamatan | Jumlah | Satuan |
|---|---|---|---|---|
| Laut | 903.417,86 | Kabupaten Tolitoli | 886.140,86 | ton |
| Kabupaten Parigi Moutong | 11.448,30 | |||
| Kabupaten Poso | 4.041,20 | |||
| Kota Palu | 1.787,50 | |||
| Umum | 34,00 | Kabupaten Poso | 29,50 | ton |
| Kabupaten Morowali | 4,50 | |||
| Kabupaten Poso | 6.751,70 | ton | ||
| Kabupaten Tolitoli | 2.207,00 | |||
| Kabupaten Morowali | 814,00 | |||
| Kabupaten Parigi Moutong | 722,30 |
Peternakan dan Hasil-hasilnya
| Peternakan | Total | Kecamatan | Jumlah | Satuan |
|---|---|---|---|---|
| Ayam Ras | 2.358.000,00 | Kota Palu | 991.890,00 | ekor |
| Kabupaten Donggala | 977.636,00 | |||
| Ayam Kampung | 2.120.288,00 | Kabupaten Banggai Kepulauan | 463.903,00 | ekor |
| Kabupaten Donggala | 389.403,00 | |||
| Kabupaten Banggai | 318.454,00 | |||
| Itik | 207.272,00 | Kabupaten Banggai | 92.022,00 | ekor |
| Kabupaten Banggai Kepulauan | 41.505,00 | |||
| Kabupaten Buol | 26.832,00 | |||
| Babi | 189.229,00 | Kabupaten Poso | 49.280,00 | ekor |
| Kabupaten Banggai | 34.180,00 | |||
| Sapi | 189.145,00 | Kabupaten Banggai | 39.422,00 | ekor |
| Kabupaten Donggala | 38.419,00 | |||
| Kabupaten Parigi Moutong | 25.154,00 | |||
| Kambing | 188.362,00 | Kabupaten Banggai Kepulauan | 36.344,00 | ekor |
| Kabupaten Donggala | 33.305,00 | |||
| Kerbau | 4.491,00 | Kabupaten Poso | 2.956,00 | ekor |
| Kabupaten Morowali | 842,00 | |||
| Kabupaten Donggala | 456,00 | |||
| Kuda | 3.315,00 | Kabupaten Donggala | 705,00 | ekor |
| Kabupaten Banggai Kepulauan | 605,00 | |||
| Kabupaten Poso | 562,00 | |||
| Domba | 2.211,00 | Kota Palu | 1.135,00 | ekor |
Tanaman Bahan Makanan
| Padi dan Palawija | Total | Kecamatan | Jumlah | Satuan |
|---|---|---|---|---|
| Padi Sawah | 725.945,00 | Kabupaten Donggala | 216.983,00 | ton |
| Kabupaten Parigi Moutong | 210.921,00 | |||
| Kabupaten Banggai | 127.543,00 | |||
| Jagung | 66.433,00 | Kabupaten Banggai | 5.853,00 | ton |
| Kabupaten Parigi Moutong | 4.139,00 | |||
| Kabupaten Poso | 4.119,00 | |||
| Kabupaten Tojo Una-una | 1.530,00 | |||
| Ubi Kayu | 52.791,00 | Kabupaten Donggala | 25.444,00 | ton |
| Kabupaten Banggai Kepulauan | 5.616,00 | |||
| Kabupaten Banggai | 4.848,00 | |||
| Ubi Jalar | 26.886,00 | Kabupaten Donggala | 12.436,00 | ton |
| Kabupaten Banggai Kepulauan | 2.649,00 | |||
| Kabupaten Banggai | 2.303,00 | |||
| Kabupaten Tolitoli | 2.128,00 | |||
| Padi Ladang | 13.831,00 | Kabupaten Banggai | 5.049,00 | ton |
| Kabupaten Donggala | 3.778,00 | |||
| Kabupaten Morowali | 1.648,00 | |||
| Kacang Tanah | 10.422,00 | Kabupaten Banggai Kepulauan | 3.467,00 | ton |
| Kabupaten Banggai | 3.007,00 | |||
| Kabupaten Donggala | 2.040,00 | |||
| Kedelai | 2.651,00 | Kabupaten Banggai | 964,00 | ton |
| Kabupaten Morowali | 595,00 | |||
| Kabupaten Donggala | 335,00 | |||
| Kabupaten Tojo Una-una | 307,00 | |||
| Kacang Hijau | 1.281,00 | Kabupaten Banggai | 445,00 | ton |
| Kabupaten Donggala | 315,00 | |||
| Kabupaten Buol | 133,00 | |||
| Kabupaten Tolitoli | 110,00 |
Tanaman Bahan Makanan
| Sayur-sayuran | Total | Kecamatan | Jumlah | Satuan |
|---|---|---|---|---|
| Bawang Merah | 8.659,00 | Kabupaten Donggala | 2.451,00 | ton |
| Kota Palu | 1.815,00 | |||
| Kabupaten Parigi Moutong | 1.498,00 | |||
| Kabupaten Banggai | 1.277,00 | |||
| Lombok | 7.935,00 | Kabupaten Donggala | 4.517,00 | ton |
| Kabupaten Morowali | 1.628,00 | |||
| Kabupaten Tolitoli | 1.112,00 | |||
| Kacang-kacangan | 4.817,00 | Kabupaten Donggala | 2.044,00 | ton |
| Kabupaten Tolitoli | 1.221,00 | |||
| Tomat | 4.412,00 | Kabupaten Donggala | 1.850,00 | ton |
| Kangkung | 2.800,00 | Kabupaten Tolitoli | 759,00 | ton |
| Kabupaten Donggala | 666,00 | |||
| Kabupaten Morowali | 629,00 | |||
| Terung | 2.199,00 | Kabupaten Donggala | 940,00 | ton |
| Kabupaten Tojo Una-una | 304,00 | |||
| Kabupaten Banggai | 204,00 | |||
| Kubis | 1.949,00 | Kabupaten Donggala | 1.276,00 | ton |
| Kabupaten Poso | 557,00 | |||
| Sawi | 1.843,00 | Kabupaten Donggala | 829,00 | ton |
| Kabupaten Poso | 346,00 | |||
| Kabupaten Banggai | 264,00 | |||
| Kabupaten Morowali | 263,00 | |||
| Labu Siam | 1.367,00 | Kabupaten Poso | 560,00 | ton |
| Kabupaten Donggala | 541,00 | |||
| Kabupaten Tojo Una-una | 128,00 | |||
| Bayam | 1.145,00 | Kabupaten Tolitoli | 568,00 | ton |
| Kabupaten Donggala | 262,00 | |||
| Kentang | 423,00 | Kabupaten Poso | 306,00 | ton |
| Kabupaten Morowali | 117,00 | |||
| Bawang Daun | 403,00 | Kabupaten Donggala | 349,00 | ton |
| Kabupaten Morowali | 134,00 | |||
| Wortel | 395,00 | Kabupaten Poso | 195,00 | ton |
| Kabupaten Donggala | 183,00 | |||
| Buncis | 314,00 | Kabupaten Donggala | 137,00 | ton |
| Kabupaten Banggai | 129,00 | |||
| Kembang Kol | 295,00 | Kabupaten Donggala | 233,00 | ton |
Tanaman Perkebunan
| Perkebunan | Total | Kecamatan | Jumlah | Satuan |
|---|---|---|---|---|
| Kelapa | 187.491,00 | Kabupaten Parigi Moutong | 36.921,00 | ton |
| Kabupaten Donggala | 35.290,00 | |||
| Kabupaten Banggai | 31.915,00 | |||
| Cokelat | 147.845,00 | Kabupaten Parigi Moutong | 54.864,00 | ton |
| Kabupaten Donggala | 30.159,00 | |||
| Kabupaten Poso | 24.031,00 | |||
| Kelapa Sawit | 119.609,00 | Kabupaten Buol | 44.993,00 | ton |
| Kabupaten Banggai | 32.740,00 | |||
| Kabupaten Donggala | 25.979,00 | |||
| Cengkeh | 9.549,00 | Kabupaten Tolitoli | 5.759,00 | ton |
| Kabupaten Donggala | 971,00 | |||
| Kopi | 4.826,00 | Kabupaten Donggala | 3.493,00 | ton |
| Kabupaten Banggai | 504,00 | |||
| Jambu Mete | 3.749,00 | Kabupaten Banggai Kepulauan | 1.920,00 | ton |
| Kabupaten Banggai | 1.030,00 | |||
| Karet | 1.685,00 | Kabupaten Morowali | 1.685,00 | ton |
| Sagu | 1.607,00 | Kabupaten Banggai | 664,00 | ton |
| Kabupaten Buol | 587,00 | |||
| Kabupaten Tojo Una-una | 116,00 | |||
| Kemiri | 649,00 | Kabupaten Morowali | 1.379,00 | ton |
| Kabupaten Banggai | 323,00 | |||
| Kabupaten Parigi Moutong | 154,00 | |||
| Kapuk | 285,00 | Kabupaten Donggala | 141,00 | ton |
| Kabupaten Parigi Moutong | 117,00 | |||
| Lada | 197,00 | Kabupaten Tolitoli | 95,00 | ton |
| Kabupaten Donggala | 55,00 |
PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN
Hotel
| Hotel | Total | Kecamatan | Jumlah | Satuan |
|---|---|---|---|---|
| Non Bintang 1 | 98,00 | Kabupaten Parigi Moutong | 18,00 | unit |
| Kabupaten Tolitoli | 16,00 | |||
| Kabupaten Morowali | 15,00 | |||
| Kota Palu | 14,00 | |||
| Kabupaten Poso | 11,00 | |||
| Kabupaten Banggai | 10,00 | |||
| Non Bintang 2 | 77,00 | Kota Palu | 29,00 | unit |
| Kabupaten Poso | 10,00 | |||
| Kabupaten Banggai | 9,00 | |||
| Kabupaten Parigi Moutong | 9,00 | |||
| Kabupaten Morowali | 7,00 | |||
| Non Bintang 3 | 29,00 | Kabupaten Tojo Una-una | 10,00 | unit |
| Kabupaten Tolitoli | 7,00 | |||
| Kabupaten Poso | 6,00 | |||
| Bintang 2 | 2,00 | Kota Palu | 2,00 | unit |
| Bintang 1 | 1,00 | Kota Palu | 1,00 | unit |
Hotel
| Wisatawan | Total | Kecamatan | Jumlah | Satuan |
|---|---|---|---|---|
| Nusantara | 1.061.365,00 | Kota Palu | 237.760,00 | unit |
| Kabupaten Donggala | 112.101,00 | |||
| Kabupaten Poso | 99.139,00 | |||
| Kabupaten Parigi Moutong | 98.664,00 | |||
| Kabupaten Banggai | 94.674,00 | |||
| Mancanegara | 3.606,00 | Kabupaten Tojo Una-una | 2.066,00 | unit |
| Kota Palu | 756,00 | |||
| Kabupaten Donggala | 421,00 | |||
| Kabupaten Poso | 182,00 | |||
| Kabupaten Banggai | 114,00 |
Restoran
| Restoran | Total | Kecamatan | Jumlah | Satuan |
|---|---|---|---|---|
| Restoran | 202,00 | Kota Palu | 68,00 | unit |
| Kabupaten Banggai | 33,00 | |||
| Kabupaten Morowali | 28,00 | |||
| Kabupaten Parigi Moutong | 25,00 | |||
| Kabupaten Poso | 24,00 |
Sumber : Sulawesi Tengah dalam Angka 2007, BPS Propinsi Sulawesi Tengah

